Kadang hidup tidak seperti yang kita inginkan..inginnya seperti yang diharapkan,, namun kadang keadaan yang MENGHARUSKAN kita melakukan hal yang kurang kita inginkan. Dan atas semua pertimbangan sana sini, yaa harus cara itu yang ditempuh, agak memusingkan ya bacanya..hehehe..Dan setiap persoalan yang kita hadapi ibarat kita sedang mengerjakan soal ujian, apapun soalnya baik itu soal mudah atau soal sulit kita harus mengerjakannya. Jika ingin mendapat nilai bagus kita harus mengerjakan dengan cara yang benar sehingga jawabannya pun benar jika puas dengan nilai kecil ya kita asal-asalan mengerjakannya..Kita diuji atas semua kekurangan kita,, apapun itu kita harus bisa melewatinya, diharuskan memutar otak dan dituntut keikhlasan menjalaninya. Apapun kondisinya kita harus selalu bersyukur dengan sehatnya anakku INARA AMAYA MAVISHA yang bentar lagi berulang tahun yang pertama. Horray!!!
dan jawaban atas pertanyaanku dr 2 minggu yang lalu ada di artikel ini..semoga bisa menjalaninya ya..semangkaaa..
Ini dia artikelnya
Suatu hari, dua orang wanita yang bersahabat saling bertemu dan bertukar
cerita. Salah satu dari mereka lalu mengungkapkan rasa penasarannya
bahwa sahabatnya terlihat sangat jarang sekali marah kepada sang suami,
atas bagaimanapun perlakuan yang diterimanya.Lalu sang sahabat
berkata….Ketika kemarahan itu sudah sampai diubun-ubun, lalu aku masih
menahannya dan mencoba tetap mendidik diriku untuk tetap mengingat,
betapa jasanya yang dalam himpitan kesusahan, lelah dan penat, dia
berusaha mencukupi nafkah untuk aku dan keluargaku. Dan tidak jarang
pula, akhirnya dia melupakan perawatan atas dirinya sendiri. Aku seperti
halnya kamu, adalah seorang wanita yang diciptakan lebih lemah dari
pada lelaki. Dan saat kelemahanku itu hadir dan mengusik mereka, seribu
satu kemakluman beliau hadirkan untuk tetap mengerti kekuranganku
sebagai wanita. Terkadang keegoisan kami sama-sama datang, namun naluri
mengalahnya atas perempuan manja yaitu aku, akan segera dimunculkan
olehnya. Direngkuhnya aku dan terucaplah perkataan maaf. Dan, dari
disanalah perdamaian kami tercipta. Dan kamipun semakin bertambah
mesra.Tapi….
Tidak jarang pula, ketika rasa “keunggulannya” sebagai lelaki hadir
dan membuatnya sedikit terbawa dalam ego, hal itu memang membuatku
sedikit sakit hati, yah aku kan hanya manusia. Namun kesempatan itu
tidak aku sia-siakan, aku tata batinku sedemikian rupa sehingga aku
terlihat menyenangkannya dalam luasnya hatiku menerimanya. Aku yakin,
Allah yang Maha melihat akan lebih ridho kepadaku saat itu.
Saat tiada teman berbagi, dialah yang menyediakan pundaknya yang kuat
untukku menangis. Kekuatan pikiran dalam logisnya dia berpikir, yang
jelas-jelas memang lebih kuat dari pada aku, akhirnya memberi ruang
bagiku sejenak untuk merasa nyaman dan terlindungi. Sekuat-kuatnya
wanita didunia ini, tapi sesuai dengan fitrahnya, wanita tetap dan pasti
akan merasa butuh diayomi oleh laki-laki.
Rasanya tiada teman yang paling pantas aku akrabi selain suamiku. Dan
memang sebagai manusia biasa, dia tidak akan lepas dari kekurangan,
seperti halnya aku. Lalu setelah semua itu aku sadari, untuk alasan
apalagi aku harus menuntutnya menjadi sempurna? Dan dalam keterbatasan
serta kekurangannya sebagai manusia, masih pantaskah aku menuntutnya
untuk harus selalu berlaku dan memberi lebih kepadaku?
Dan bukan berarti aku merendahkan diriku sendiri atasnya, namun…
dengan kalimatku ini, aku mencoba sadar diri, betapa aku mempunyai
banyak kekurangan sebagai wanita. Dan dia tetap memilih aku, dan
memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu hidupnya denganku, membimbing,
mengayomi, dan menafkahi aku. Lalu… berilah aku satu alasan, dari celah
mana aku bisa tetap beralasan untuk tidak bisa menahan lidahku atas
suamiku?
Dengan menahan kemarahanku padanya, insyaAllah akan memberi gambaran
jelas tentang diriku, istrinya, yang sebenar-benarnya. Jika aku selama
ini belum dapat membuatnya bangga, mungkin saat inilah yang tepat bagiku
mengukir kenangan yang dapat membanggakannya. Membuatnya bangga bahwa
aku adalah istri yang dapat tetap mengertinya, bahkan dalam keadaan
marah sekalipun. Setelah itu, aku yakin dia akan berkata pada hatinya,
bahwa dia bersyukur telah meletakkan pilihan atas separoh hidupnya
kepadaku.
Dan apakah kau tahu, bahwa suamiku adalah ladang amal yang InsyaAllah
akan membawa ku kepada surga Allah yang abadi. Keridhoannya adalah
kunci pembuka pintunya, dan mengalah sedikit bukan berarti menjadi
budaknya, namun sikap sabar itu yang justru akan memuliakan kita
dihadapannya.
Maka, aku belajar untuk tidak merelakan hidup dan hatiku diatur oleh
rasa. Rasa amarah, rasa benci, dan apapun yang justru akan membelokkan
fokusku dari menghimpun pahala dari sang maha kuasa. Maka dari itu pula,
aku ingin mencintai suamiku karena Allah. Hanya karena Allah saja. Jadi
setiap kali aku marah kepadanya, aku akan kembali mengingat Allah dan
mengingatnya hanya sebatas manusia yang penuh dengan kekurangan, seperti
halnya aku. Hal itu yang menjauhkanku dari penghakiman apapun atas
suamiku. Setelah itu, betapa hanya keteduhan yang akhirnya memenuhi
hatiku, dan hilanglah amarahku.
Dari Ibnu Umar ra. berkata, Rasullullaah SAW. Bersabda :
“Setiap orang di antaramu adalah penanggung jawab dan setiap orang
diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah
penanggung jawab atas umatnya, ia diminta tanggung jawab atas
kepemimpinannya, seorang suami penanggung jawab atas keluarganya, ia
diminta tanggung jawab atas kepemimpinanya, seorang istri penanggung
jawab atas rumah tangga suaminya (Bila suami pergi), ia diminta tanggung
jawab atas kepemimpinanya.“ ( HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi )
Semoga bermanfaat dan menjadi hikmah..
http://www.kabarmuslimah.com/kutahan-amarahku-suamiku/